Langsung ke konten utama
Sebuah Cinta untuk Indonesia


Ini adalah sebuah cerita tentang Indonesia

Terdapat sebuah asa tanpa nyawa di dalamnya

Tenggelam dalam kesunyian tanpa suara

Sebuah asa yang hanya akan terkubur dalam dada

Tanpa pernah berharap akan menjadi nyata

Apalagi timbul di hadapan dunia

Bukan bermaksud berputus asa

Apalagi tak cinta

Hanya mencoba melihat sebuah realita

Agar tak kan pernah larut dalam khayalan belaka

Ini adalah sebuah realita tentang Indonesia

Yang terkadang sering kali membuat sesak dalam dada.

Sebuah realita yang sangat sulit untuk bisa dipercaya.

Tujuh belas agustus seribu sembilan ratus empat puluh lima.

Tepat tujuh puluh dua tahun sudah Indonesia Merdeka.

Tujuh puluh dua tahun sudah sang garuda mengudara bebas di langit nusantara.

Tujuh puluh dua tahun sudah bangsa ini berhasil mengibarkan sang bendera pusaka.

Tujuh puluh dua tahun sudah Indonesia terbebas dari luka.

Luka yang dapat dirasakan rakyat mulai dari Sumatera hingga Papua.

Luka yang disebabkan oleh sebuah pengkhianatan kepada Indonesia.

Pengkhianatan bangsa-bangsa yang memperebutkan nusantara.

Luka itu memang sudah tidak ada.

Tapi kini luka baru telah tercipta.

Luka yang lagi-lagi disebabkan oleh sebuah pengkhianatan kepada Indonesia.

Pengkhianatan tanpa akhir kepada Pancasila.

Pengkhianatan tanpa akhir kepada sang Garuda.

Pengkhianatan yang dilakukan oleh mereka yang berkuasa.

Berlindung dibalik kepalsuan sebuah cinta kepada Nusantara.

Berebut kekuasaan demi sebuah kebahagiaan dirinya dan keluarganya.

Dan meninggalkan sebuah luka bagi rakyatnya.

Tujuh kali sudah mahkota kekuasaan berpindah kepala.

Tujuh kali sudah kami mencoba percaya kepada mereka yang bertahta.

Dan itu artinya, tujuh kali sudah harapan dan kepercayaan kami terbuang sia-sia.

Sebuah bangsa besar yang seolah tidak berdaya.

Tidak dapat lepas dari segala belenggu keserakahan para penguasa.

Layaknya sedang menonton sebuah pertunjukan sandiwara.

Kami hanya dapat terdiam melihat tanpa bisa bersuara.

Jangankan bersuara, untuk sekedar bernapas saja sulit rasanya.

Inikah yang kau sebut dengan merdeka?!

Disaat banyak dari mereka yang menghancurkan negara dengan berbagai cara.

Inikah yang kau sebut dengan merdeka?!

Disaat nusantara seolah terbelah menjadi dua suara.

Suara kami dan suara mereka.

Suara kami yang tidak pernah dianggap ada,

dan suara mereka yang selalu menjadi satu-satunya.

Inikah yang kau sebut dengan merdeka?!

Disaat kami harus mengemis untuk mendapatkan apa yang sebenarnya adalah milik kami, wahai penguasa?

Apakah kau akan terus diam saja?

Diam, seolah tidak pernah tau apa yang terjadi sebenarnya.

Apakah kau akan terus melakukannya?

Sampai kapan kau akan terus melakukannya?

Aku merasa bahwa kemerdekaan ini bukanlah sebuah kemerdekaannya yang sepenuhnya.

Bukanlah sebuah kemerdekaan yang sebenarnya.

Kemerdekaan ini sungguh tidak nyata.

Kemerdekaan ini hanyalah sebuah angan belaka.

Karna sesungguhnya tidak ada yang benar-benar merdeka.

Bahkan untuk mereka yang sekedar ingin bersuara.

Sudahlah, biarkan saja.

Tidak perlu dibahas terlalu lama, jika hanya menimbulkan banyak kata tanya.

Kata tanya yang tak kan pernah ada jawabnya.

Saya hanya ingin menyampaikan sebuah rahasia.

Bahwa sampai saat ini, saya hanya tau satu hal, yaitu saya mencintai Indonesia sepenuhnya.

Saya jatuh cinta kepada Indonesia selama-lamanya, apapun dan bagaimanapun keadaannya.

Akhir kata, saya ingin memberikan salam hormat kepada sang Garuda.

Semoga kau selalu berjaya, dimanapun tempat kau berada.

Semoga kau akan selalu dihormati oleh setiap bangsa dan negara di dunia.



Salam saya.
Sang Pemuda yang akan selalu jatuh cinta.
Afifatul Puspita



17-Agustus-2017









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mati dan Meniada

Waktu mana yang dapat dia berhentikan? Setidaknya sedetik lebih lama sebelum semuanya begitu tidak bisa dipercaya Sebelum akhirnya 'berusaha' adalah kata yang selalu menjadi awal dari semua hal yang akan dilakukan Dan saat dimana sunyi adalah bagian yang tidak lagi terlalu buruk untuk dirasakan sepanjang hari Karena menikmati waktu seperti ini dalam keramayan hanya akan membuatnya lebih tenggelam dan mati Maka menepi dan berhenti adalah cara mencegah semesta menenggelamkan diri seutuhnya. Afifatul Puspita Tigaraksa, Tangerang, Banten.

Siapa Saya

Siapa Saya Nama saya Afifatul Puspita. Anak pertama pasangan seorang wiraswasta dengan seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Terlahir disebuah kota pinggiran Jakarta, Bekasi namanya. Manusia biasa dengan banyak cita-cita yang berharap kelak akan menjadi nyata. Hidup dengan bekal terus percaya kepada siapa saja yang dapat saya percaraya, kepada Tuhan salah satunya. Sembilan belas tahun sudah tepatnya. Terhitung sejak seorang wanita berjuang mempertaruhkan sebuah nyawa. Ditengah dilema kehilangan sebuah nyawa, Ia memilih melahirkan seorang anak yang entah akan menjadi seperti apa nantinya. Dan karena keihklasan dan perjuangannya, kini saya bisa terlahir ke dunia. Dunia yang indah katanya. Kata siapa? yang jelas bukan kata saya. Bukan seorang anak pengusaha, atau seorang anak penguasa. Apalagi anak seorang raja. Hanya anak seorang wiraswasta, sederhana namun bersahaja. Manusia biasa dengan cita-cita sederhana, hidup bahagia dengan segala kemelut yang ad...

Ada Ku adalah Ketidakberdayaan Ku

Aku seperti senja sore yang sangat merindukan mentari pagi Aku selalu berusaha untuk dapat melihat sang fajar di saat saat ketiadaanku Aku tau bahwa inginku hanya sebuah angan semu yang tak akan pernah sekalipun menjadi nyata Sekalipun aku berusaha untuk dapat mensejajarkan ada ku dengan ketiadaan mu, tetap saja aku tidak akan pernah bisa menggapaimu Bisuku adalah satu dari sekian banyak hal yang membuat aku tidak bisa menggapaimu Kemampuanku hanya sebatas mencari cahaya mu ditengah keramaian manusia Dan pada akhirnya hanya akan membuat aku mati di tengah ketidakberdayaanku Dan hilang di tengah kericuhan dunia pagimu Tapi bukan itu maksud ku Bukan untuk membuatmu mau menyadari keberadaanku Inginku hanya untuk menyampaikan bahwa, ada angan semu yang terus aku bisikan kepada Tuhan, berharap suatu saat aku mampu menyapamu di tengah ketidakberdayaanku.